Top Social

Bapak

November 11, 2016


Hari ini, tepat 62 tahun yang lalu
Hari ini, hari lahirmu.

Aku tidak tahu bagaimana masa kecilmu dulu.
Bahkan aku tidak pernah bertanya apakah masa kecilmu bahagia atau tidak.
Aku tidak tahu bagaimana cara orangtuamu mendidikmu, mengajarimu.

Tidak.
Aku tidak tahu itu semua.


Yang aku tahu,
Setiap hari kau bekerja untuk menghidupi kami.
Setiap hari mengingatkan kami untuk tidak mengeluh.
Setiap hari pula mengingatkan kami untuk terus bekerja keras.

Ya, itu yang aku tahu.

Aku tidak pernah tahu dan tidak pernah mencari tahu.
Seberapa keras hidup yang telah kau lalui dulu.
Berapa banyak peluh yang telah kau teteskan.
Seberapa letihnya ragamu bekerja setiap hari.
Terlebih letihnya batinmu menghadapi kami.
Sama sekali kau tidak pernah mengeluhkannya.
Tidak sekalipun.

Tapi apa yang aku lakukan?

Aku hanya bisa mengeluhkan hal yang bahkan tidak sebanding dengan apa yang telah kau berikan untukku.
Berkoar-koar seolah hidup ini tidak adil padaku.
Tapi kau tetap sabar menghadapi semua tingkah-lakuku.

Dan kini,
Saat usiamu sudah lanjut
Kau tetap memberikan yang terbaik semampumu.
Tetap mendoakan kebaikan dan kebahagiaan untukku.

Bapak...
Gemetar aku menulis ini.
Tangisku pecah, mengingat semua kabaikanmu, perjuanganmu, pengorbananmu.

Bapak...
Maafkan aku yang begitu buta untuk melihat itu semua.

Bapak...
Terimakasih telah menjadikan aku wanita yang tangguh menghadapi kerasnya hidup ini.
Terimakasih untuk semua nasihat-nasihatmu yang bahkan sering aku abaikan.
Terimakasih untuk semua pengorbanan, pikiran, dan tenaga yang telah kau habiskan tanpa pamrih.

Tidak ada yang bisa menggantikan semua yang telah kau berikan untuk kami.


Hanya sebuah do'a yang tulus dariku untukmu Bapak.

Semoga do'a ku ini bisa menjadi jalanmu menuju syurga kelak.


-Bandung, 11 November 2016-







Post Comment
Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini :)