Wednesday, November 02, 2016

Matrikulasi IIP : Nice HomeWork #3


"Membangun Peradaban Dari Dalam Rumah"

Family, where life begins and love never ends ~unknown~

and,

It's not how big the house is. It's how happy the home is. ~unknown~

Rumah adalah pondasi awal terbentuknya sebuah peradaban. Rumah adalah tempat kita belajar, tempat kita mendidik generasi penerus kita. Anak-anak kita. 

Home is where the story begins...


Kita semua yang terlahir kedunia ini adalah orang-orang terpilih. Orang-orang yang terpilih untuk membangun peradaban. Dari awal mula kita lahir kedunia ini kemudian kita menikah dan sekarang kita dianugerahi anak-anak. Setiap tahapan hidup kita mempunyai misi dan peran yang terkadang kita lupa akan hal ini. Atau bahkan kita enggan mencari tahu, untuk apa kita dilahirkan kedunia ini? 

Apa peran kita sebagai orang tua didunia ini? Kita bangun peradaban, dengan mendidik anak-anak kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Lalu bagaimana memulainya?

Di Nice HomeWork #3 ini, saya akan mencoba memahami peran spesifik keluarga saya di muka bumi ini. 

Apa saja tugasnya?

Here we go...

1. Jatuh cintalah kembali kepada suami anda, buatlah surat cinta yang menjadikan anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami. 
It's sounds silly, but I love doing that. I sent the "Love Letter" this morning by email *LDM problem* and here's his response 


ada sedikit typo sih kayanya ya tulisannya 😂 tapi gapapa, ga mengurangi sedikitpun makna dari isi suratnya. ❤️

2. Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.
Anak saya Alvaro, usianya 2y6m. Saat ini saya belum bisa memetakan potensi yang ada pada dirinya. Saya harus lebih mencari tau lagi bagaimana karakter dia, karena saat ini kami ada sedikit kendala di komunikasi. Dia belum terlalu lancar untuk berkomunikasi verbal tapi ingatan dia bagus. Pernah suatu waktu dia menunjukan gambar yang sama di tempat yang berbeda padahal saya sendiri lupa kapan saya menunjukan gambar itu.
Aro juga anak yang sangat perasa *baperan kaya bundanya* 😀 mungkinkah Aro akan seperti Abu Bakar As-siddiq yang lembut hatinya? Semoga. 


3. Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yg anda miliki.
Agak subjektif mungkin ya kalau saya harus menilai potensi yang ada pada diri saya sendiri. Tapi saya akan coba menilainya. Apa saja potensi saya?
  • Saya adalah orang dengan kemauan yang keras.
  • Saya adalah orang yang selalu ingin belajar hal-hal baru.
  • Saya adalah orang yang selalu haus akan ilmu, terlebih ilmu agama.
  • Saya adalah orang yang memiliki empati yang tinggi.
  • Saya adalah orang yang memiliki jiwa sosial.
  • Saya adalah orang yang mau bekerja-keras.
  • Saya adalah orang yang suka sekali membaca buku.
  • Saya adalah orang yang bertanggung-jawab.
  • Saya adalah orang yang senang berbagi.
  • Saya adalah orang yang cerdas.
Segitu aja mungkin yaa hehehe..

Dengan potensi saya ini, saya yakin bisa berbuat banyak untuk anak dan suami juga keluarga saya. Saya bisa berbagi ilmu yang saya punya dengan mereka. Dan saya adalah tipe orang yang pandai membaca situasi dan memberikan semangat ketika ada yang memerlukan dorongan motivasi terlebih ketika suami sedang down *lagi-lagi menurut saya sendiri ya ini* hehehe..


4. Lihat lingkungan dimana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan disini?

Lingkungan tempat saya tinggal saat ini memang belum terlalu kondusif dalam bidang pendidikan. Dan itu menjadi tantangan untuk saya untuk membuatnya menjadi lebih baik. Tapi sebelum itu, tantangan pertama yang harus saya selesaikan adalah mengubah diri saya sendiri menjadi lebih baik, belajar lebih dulu menerima keadaan, dilingkungan seperti apapun saya berada sekarang. 

-Edited, 04/11/16-

Terimakasih telah mengingatkan :)

"It takes a village to raise a child"  ~ unknown

Semoga, kita menjadi orangtua yang mampu mendidik anak kita sesuai dengan kehendak-Nya


With much love,


-Kireyhikari-







2 comments:

  1. Sukaa..nice artikel mbaak..aku juga suka kirim surat sayang, sama suami, sama teman dekat...sama keluarga bilangnya di wa tapi :)..salam kenal ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, salam kenal juga mbaak dewi 😊
      makasih udah mampir kesini mbak, di artikel ini sebenernya tugas dari salah satu program yang sedang saya ikuti hehe.. Tapi terlepas dari itu mengirimkan "surat" sebagai salah satu bentuk bahasa cinta kita kayanya bagus juga ya mbak. Apalagi kayanya sekarang udah jarang banget ya yg kirim-kiriman surat cinta. Hehe..

      Delete