Top Social

Tantangan 10 hari Komunikasi Produktif

January 25, 2017
#Hari1 ( 25 januari 2017 )

Bismillahirrahmanirrahim..
Setelah 3 bulan mengikuti kelas matrikulasi, kini saatnya memasuki kelas Bunda Sayang. Bunda Sayang merupakan tahapan pertama dalam kurikulum Ibu profesional. Di kelas ini saya akan belajar selama kurang lebih satu tahun, lama sekali yaa.. hehe..

Seperti program matrikulasi sebelumnya, setiap penyampaian materi akan dibarengi oleh tugas yang harus dikerjakan oleh setiap peserta. Kali ini kami menyebutnya tantangan. Dan sesuai materi pertama yang diberikan yaitu tentang komunikasi produktif, tantangan nya adalah membuat sebuah " Family Forum"


Untuk saya yang menjalani LDM, komunikasi menjadi salah satu tantangan terbesar saya dan suami. Karena selama suami saya berada di Jakarta cara saya berkomunikasi dengan suami adalah via chat atau video call di HP. Cara berkomunikasi via HP ini terkadang kurang efektif karena ada beberapa kendala seperti missed communication dalam penerimaan pesan yang disampaikan, delay, dan perasaan yang tidak tersampaikan karena tidak bertatap muka secara langsung.

Namun saya dan suami harus tetap mengoptimalkan cara kami berkomunikasi ini sebaik mungkin.
Tantangan ini jelas berat untuk saya, karena saya merasa saya belum bisa mempraktekan komunikasi produktif itu dengan suami, anak dan juga keluarga.

Lagi-lagi saya bersyukur karena saya bisa mendapatkan materi ini di kelas bunda sayang.
Akhirnya saya berpikir untuk membuat tema atau membahas satu topik perharinya.

Dan topik pertama yang saya bahas dengan suami adalah tentang anak. Perilaku anak yang akhir-akhir ini sangat menguji kesabaran saya. Saya mencoba menyampaikan perasaan saya selama sehari ini yang harus menghadapi  "wonderful two" nya Aro. Lalu suami memberikan masukan tentang penyebab Aro tantrum dan juga memberikan semangat untuk tetap sabar menghadapi Aro.

Menurut saya ini adalah bentuk komunikasi produktif kami di tantangan yang pertama ini.
Semoga bisa menjadi pelajaran untuk saya dan juga yang lainnya.


#Hari2 ( 26 Januari 2017 )

karena hari ini saya dapet oleh-oleh dari acara Nova Inspiring Day, jadilah tema komunikasi hari ini masih seputar anak. Sebenarnya materi yang disampaikan di acara Nova tentang bahasa cinta, tapi saya sudah pernah membahas ini sebelumnya dengan suami. Dan tipe bahasa cinta kita ternyata berbeda 😁

Yang dibahas kali ini tepatnya tentang penggunaan gadget untuk anak. Ini juga sebenernya udah dibahas sih cuma kita kurang konsisten nerapin nya *tutupmukapakebantal*

penggalan obrolan saya dengan suami
B : Tadi pas acara kan talkshow gitu yah
A : terus?
B : Ada dokter gizi klinik, psikolog, sama chef
A : Woo
B : Anak kecil dibawah 2 tahun emang engga boleh terpapar gadget yah. Ini tablet udah bunda umpetin lagi.
A : hahahahaha
B : bunda bilang internetnya abis
A : nyariin ngga Aro nya?
B : kemaren2 dia tantrum kan gara2 gadget lagi. kata dokter usia kecil sudah terpapar gadget ngerusak retina mata.
A : iya bunda suruh maen-maenan aja
B : Iya. Biar engga youtuban terus.
A : hu uh bunda
B : pokoknya harus saklek sekarang mah mendingan ajak main yang bikin gerak.
A : Iya bunda
B : gapapa ayahnya cape juga. hahahaha
A : hahahaha

Kemudian ngobrol lagi ngalor-ngidul~ 😂

Beginilah gaya ngobrol kami, engga formal banget dan banyak ngalor-ngidulnya hehe.. 

Tapi kami sepakat untuk mulai strict soal penggunaan gadget ini. Karena saya yang sehari-hari bersama Aro ngerasain banget pengaruh nya si gadget ini ke perkembangan perilaku anak. 

Diantaranya dampak negatif yang saya rasain:

1. Anak kurang aktif/males gerak
Aro ngambil benda yang deket dia aja nyuruh 😑

2. Kosakata kurang
Sampai sekarang Aro masih belum lancar bicaranya. Kemungkinan ini pengaruh dari keseringan main gadget juga.

3. Susah beradaptasi dengan teman seusianya
Entahlah apakah Aro tipe anak introvert atau pengaruh dari kebanyakan gadget juga, setiap playdate sama temen-temen nya dia engga bisa langsung berbaur sama yang lain.

4. Tantrum!
This is the worst thing. Tantrum gara-gara pengen nonton review mainan di youtube. Kuota internet 2gb bisa abis dalam sehari cuma dipake youtuban aja kan boros banget. Dan setelah kuota abis dia akan cranky. Huhuhu..

Kesimpulan nya adalah...

Saya sangat menyesal telah mengenalkan gadget terlalu dini ke Aro walaupun niat awalnya untuk muter lagu dan video anak. Mulai saat ini saya dan suami sepakat untuk membatasi penggunaan gadget untuk Aro dan didepan Aro. Dan ini sangat butuh kerjasama dari saya dan suami untuk konsisten dalam hal ini. Doakan kami yaa.. Hehe..


#Hari3 ( 27 Januari 2017 )

Setiap bulan saya terbiasa membuat anggaran keuangan keluarga. Jadilah tema komunikasi produktif kami kali ini adalah...

Family Finance

Menilik, menimbang, dan memperhatikan neraca keuangan beberapa bulan kedepan sepertinya keuangan keluarga ini menjadi urgent untuk diperbincangkan. Karena sudah masuk kategori tidak sehat *tutup mata*

Lalu saya pun membuka topik ini dengan suami..Kali ini komunikasi dilakukan secara live, engga via chat karena jadwalnya suami pulang...

Dan perbincangan pun dimulai...

B : Yah, hari ini kita belum "ngobrol" ( baca: komunikasi produktif ) Tema kali ini keuangan ya yah..
A : Boleh, hari ini keuangan.. besoknya keuangan partai 2 ya. Hahahaha..
B : LOL
A : Iya bunda...
B : Yah, berdasarkan neraca keuangan yang bunda buat, sebagai manajer keuangan keluarga, bunda memutuskan anggaran jajan kita untuk beberapa bulan kedepan segini yah *sensored*
A : Iya boleh, nanti ayah puasa hahahaha..
B : Iya ayah puasa, bunda sama Aro mah engga ya hahahaha ( yang ini mah improvisasi deng hahahaha )
A : Iya bunda, InsyaAllah bisa
B : Iya yah, soalnya kemarin-kemarin kita banyak pengeluaran jadi beberapa bulan kedepan harus hemat ya.
A : Iya bunda ( iya iya aja ya haha )
B : untuk pos keuangan yang lain seperti biasa ya yah..
A : Iya bunda ( iya lagi )

Hahaha.. entahlah ini termasuk komunikasi produktif atau bukan karena terlihat saya yang mendominasi pembicaraan 😅


#Hari4 ( 28 Januari 2017 )

Ketika Aku, dan Kamu, Berkomunikasi dengan Dia..

Hari ini, hari Sabtu.. tepatnya hari formasi lengkap saya, suami, dan Aro. Saat formasi lengkap seperti ini lah saya dan suami bisa lebih intens mengajak Aro ngobrol bersama. Tantangan yang kami hadapi adalah kesulitan memahami apa yang Aro maksud, karena bicara nya masih belum lancar. Usianya sekarang 33bulan, untuk anak seumuran dia memang sudah banyak yang bisa berbicara dengan lancar.

Saya sudah membahas dengan suami mengenai wacana untuk membawa Aro ke klinik tumbuh kembang. Namun suami yakin kalau Aro bisa, pasti bisa berbicara lancar tanpa perlu terapi wicara di klinik tumbuh kembang. Sempat berbeda paham dengan suami, karena walau bagaimanapun sebagai seorang Ibu yang biasanya lebih khawatir tentang perkembangan anaknya. Dengan mempertimbangkan beberapa hal seperti kesiapan Aro untuk berinteraksi dengan orang asing yang saya akui memang Aro anak yang tidak bisa langsung berbaur dengan lingkungan baru. Dia akan mengamati terlebih dahulu sebelum bisa berbaur dengan yang lain dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Akhirnya saya sepakat untuk tidak membawa Aro ke Klinik Tumbuh Kembang sebelum usia nya 3 tahun.

Jadi, komunikasi produktif saya dan suami setiap minggu dengan Aro adalah terus menstimulasi perkembangan Aro. Berusaha untuk bisa lebih memahami apa yang Aro katakan, dan menempatkan posisi kami di posisi dia. Sebisa mungkin harus sabar ketika ada hal yang tidak kami mengerti dan Aro mulai tantrum.

Semoga suatu saat kamu bisa dengan lantang, menyampaikan apa yang ingin kamu sampaikan, Nak.

#Hari5 (29 Januari 2017)

Tentang Bahasa Cinta

Hari ini saya dan suami hanya mengobrol santai, tidak ada obrolan yang berat. Namun, karena tantangan 10 hari komunikasi produktif ini saya ingin setiap obrolan saya menjadi bermanfaat walaupun hanya berupa canda gurau diantara saya dan keluarga.

Teringat kembali setelah membaca oleh-oleh dari Nova Inspiring Day tentang bahasa cinta.
Jadi saya ingin membahas kembali bahasa cinta saya dan suami.

Dulu saya tidak tahu ada yang namanya bahasa cinta. Sampai saya membaca sebuah artikel yang membahas tentang ini. Lalu saya cocokkan antara yang saya rasakan dengan kelima kriteria yang ada. Saya rasa saya termasuk kedalam kelima bahasa cinta itu, tapi yang paling dominan adalah pujian. Ya, saya senang dipuji dan diperhatikan.

Kemudian saya tanya suami, dari kelima bahasa cinta itu mana yang paling ayah banget. Lalu dia jawab, waktu kebersamaan.

Dari sini saya berpikir, oh ternyata selama ini kami tidak memahami bahasa cinta masing-masing. Ini perlu di evaluasi karena dengan memahami bahasa cinta masing-masing kebutuhan psikologis pasangan terpenuhi.

Jadi PR nya adalah memahami bahasa cinta pasangan dan memenuhi kebutuhan psikologisnya.


#Hari6 (30 Januari 2017)

Berdialog Dengan Diri Sendiri

Biasanya kalau melow saya lagi kumat, saya suka merenung sendiri. Memikirkan banyak hal. Pikiran dipenuhi berbagai pertanyaan. Saya bertanya pada diri sendiri, selama ini saya selalu menuntut banyak hal dari orang sekitar saya tanpa berpikir bahwa orang lain pun pasti berlaku sama. Mungkin mereka menginginkan saya seperti apa yang mereka harapkan juga. 

Saya berbicara pada diri sendiri, saya harus bisa memberi terlebih dahulu sebelum meminta. Memberi apa yang orang-orang sekitar saya butuhkan. Memperlakukan mereka sebagaimana saya ingin diperlakukan. Selama ini saya terlalu banyak menuntut. Saya ingin semua berjalan sesuai kehendak saya. Saya ingin merubah orang-orang menjadi seperti yang saya inginkan. 

Ah, ternyata PR terbesarnya ada pada diri saya sendiri..

Saya harus bisa menaklukan diri saya sendiri, meluruhkan semua ego saya terlebih dahulu, mengontrol emosi saya sendiri. Barulah saya bisa berkomunikasi produktif dengan orang lain.

#Hari7 (31 Januari 2017)

Berbincang dengan Mamah

Salah satu hal yang selalu mengganjal untuk saya adalah perbedaan cara pengasuhan anak. Karena saya masih tinggal dengan orang tua, mau-tidak-mau ada campur tangan mamah dalam pengasuhan Aro. Seharusnya tidak menjadi masalah jika kami bisa berkomunikasi dengan baik. Mamah yang perasa, dan saya yang keras kepala membuat kami sering beradu argumen dalam mendidik Aro. 

Maka di tantangan kali ini, saya mencoba mengkomunikasikan kembali cara pengasuhan saya terhadap Aro kepada mamah.

Dipicu oleh Aro yang saya dapati menyebut kata-kata kasar lalu malah ditertawakan oleh mamah membuat saya sedikit kesal. Namun, mengingat sebelumnya pernah seperti ini dan cara penyampaian saya yang agak kurang pas akhirnya membuat mamah jadi Baper. Belajar dari kesalahan, saya mencoba berpikir sejenak, memilih kosakata yang pas dan menahan intonasi ketika menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan yaitu ketika anak mengucapkan kata-kata kotor atau tidak pantas, jangan pernah ditertawakan karena anak akan menganggap apa yang ia katakan atau lakukan itu lucu sehingga ia akan mengulanginya lagi. 

Daaan.. yes, berhasil!

Ah, kemana aja saya kemarin.. padahal dengan komunikasi yang baik semuanya bisa menjadi lebih mudah.  

#Hari8 (01 Februari 2017)

Sore Hari Bersama Bapak

Setelah mencoba memperbaiki komunikasi dengan mamah, saya mencoba membuka batas diantara saya dan Bapak. Ketidakterimaan saya akan kebiasaan Bapak yang suka merokok telah membuat jurang diantara kami. Saya sangat tidak suka mengobrol ketika Bapak sedang merokok, jadi kesempatan sore itu saya gunakan untuk mencoba mengobrol santai dengan Bapak. 

Yang kami obrolkan hanya hal-hal ringan, seperti membahas tentang perkembangan Aro, kebiasaan-kebiasaan baru Aro.. sudah lama saya tidak tertawa bersama Bapak, padahal dulu saya merasa bahwa Bapak adalah orang paling lucu sedunia. Semua berubah semenjak negara api menyerang hahaha... semenjak saya menetapkan standard sendiri tentang semua hal. Saya ingin semua sempurna termasuk keluarga saya. 

tantangan komunikasi produktif ini telah menuntut saya untuk meluruhkan semua ego saya.

Sore itu, menjadi awal baru bagi saya dengan bapak. 

#Hari9 (02 Februari 2017)

Bismillah... Tantangan komunikasi produktif saya kali ini adalah dengan para bocah keponakan. Karena kami masih tinggal serumah, jadi setiap hari saya harus menyaksikan dua-bocah itu bertengkar. 

Saya merasa, menjadi kewajiban saya juga untuk "mendidik" mereka karena perilaku mereka akan berdampak juga pada Aro yang setiap hari menyaksikan mereka bertengkar. Dan biasanya Aro akan menjadi tim pembela salah satu. 

Kalau biasanya saya akan menasehati mereka dengan nada tinggi atau mungkin lebih tepatnya memarahi. Maka kali ini saya mencoba mempraktekan komunikasi produktif ini untuk mendamaikan mereka. 

Saya tanya mereka satu persatu, apa mau mereka, dan ternyata mendamaikan mereka itu gampang hahaha

Biasanya saya atau ibunya bisa membuat mereka akhirnya diam namun tidak menyelesaikan masalah mereka. Karena ketika saya atau ibunya dalam keadaan marah yang ada mereka menurut karena takut, sehingga permasalahan terus berulang.

Sebetulnya anak-anak juga bisa mengerti apa yang kita sampaikan, hanya saja penyampaian kita terkadang salah karena kita merasa paling benar sebagai orang tua. Dan ternyata itu salah.

Dengan anak-anak pun kita bisa melakukan komunikasi produktif. Ini menjadi pelajaran lagi untuk saya, bahwa komunikasi produktif tidak hanya untuk orang dewasa, tapi juga anak-anak. 

#Hari10 (03 Februari 2017)

Hari ini menjadi hari terakhir tantangan 10 hari komunikasi produktif di kelas bunda sayang. Namun, bukan berarti ini menjadi akhir pula untuk pembelajaran komunikasi produktif saya. Proses belajar ini akan berjalan terus sampai saya bisa benar-benar menemukan cara yang baik untuk berkomunikasi dengan orang lain terutama dengan yang berbeda karakter.

Sebagai penutup tantangan ini. Saya mencoba membuka "forum" dengan suami. Membicarakan tentang kehidupan kami masing-masing. Membicarakan kesibukan dia bekerja di Jakarta. Dan keseharian saya disini bersama Aro.  Lalu pembicaraan ini berlanjut ke pernyataan yang berujung pertanyaan, "Kalau Ayah jadi pindah kerja, Bunda sama Aro jadi ikut Ayah?"

Sebenarnya tidak perlu waktu banyak untuk menjawab pertanyaan ini, karena jawabannya cuma "iya" atau "tidak". Tapi tidak sesederhana itu ternyata, banyak yang harus dipertimbangkan mulai dari dimana kami akan tinggal nanti, bagaimana lingkungannya apakah baik atau tidak untuk Aro? pertanyaan-pertanyaan itu kami bahas satu-persatu. 

Sebagai istri, saya bukan tidak mau menemani suami disana. Mungkin karena saya masih terbiasa dengan orangtua jadi serasa berat untuk meninggalkan mereka. Tapi kali ini, pertanyaan itu saya jawab, "kapan Ayah siap boyong Bunda sama Aro nya?". Menimbang saya ingin mendidik Aro tanpa campur tangan banyak orang.

Semoga Allah selalu memudahkan segalanya. 
Post Comment
Post a Comment

Terimakasih sudah berkunjung ke blog ini :)