Top Social

Tantangan Level 11

January 19, 2018

Tantangan level 11 ini beda dari biasanya, kali ini kelas dibagi menjadi beberapa kelompok dan masing-masing kelompok akan mempresentasikan materi yang berkaitan dengan fitrah seksualitas anak. Dan tugasnya adalaah... kita harus membuat review dari tiap diskusi materi.

Here we go..

Review diskusi day #1
Tema: Pentingkah Membangkitkan Fitrah Seksualitas Anak?

Seberapa pentingkah orangtua membangkitkan fitrah seksualitas anak? Tentu jawabannya sangat penting. Karena tujuan orangtua membangkitkan fitrah seksualitas anak adalah:
  1. Anak mengerti tentang identitas seksualnya.
  2. Anak mengenali peran seksualitas yang ada pada dirinya.
  3. Mengajarkan anak untuk melindungi kejahatan seksual.

Dan saat ini banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh orang tua dalam membangkitkan fitrah seksualitas anak ini. Untuk itu salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah kita harus mendidik anak sesuai tahapan usia nya. Apa saja tahapannya?

Kurang lebih ada 3 tahapan:
  1. Tahap Pra Latih
          Usia 0-2 tahun ~ anak dekat dengan ibunya
          Usia 3-6 tahun ~ anak dekat dengan kedua orangtuanya
      2. Tahap Pra Aqil Baligh 
          Usia 7-10 tahun ~ anak didekatkan dengan orangtua sesuai gendernya.
          Usia 11-14 tahun ~ anak didekatkan dengan orangtuanya lintas gender

      3. Tahap Aqil Baligh

          Usia >15 tahun ~ Anak bukan lagi anak-anak. Mereka sudah menjadi individu yang setara dan            bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri

Sumber Referensi :
Harry Santosa, Fitrah Based Education.
http://www.ummi-online.com/membangkitkan-fitrah-seksualitas-pada-anak-bagian-1.html
http://www.ummi-online.com/membangkitkan-fitrah-seksualitas-pada-anak-bagian-2.html


Review diskusi day #2
Tema: Tantangan LGBT

Kembali maraknya LGBT menjadi salah satu tantangan besar yang harus dihadapi. Bagaimana menjaga anak-anak kita dari pengaruh buruk kaum LGBT. Apa sebenarnya LGBT? kaum ini sudah ada sejak zaman nabi Luth. Mereka ini adalah sekelompok orang yang memiliki disorientasi seksual.
Apa yang menyebabkannya? hilangnya fitrah seksualitas dikalangan mereka lah yang menjadi penyebabnya.

Apa sebenernya fitrah seksualitas? fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang bersikap, berfikir, bertindak sesuai dengan gendernya.

Apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga fitrah seksualitas anak? sama seperti bahasan sebelumnya. Perlunya pendidikan untuk membangkitkan fitrah seksualitas anak sesuai tahapan usianya.

Agar tidak terjadi penyimpangan fitrah seksualitas maka yang perlu dilakukan orangtua adalah
  • Kehadiran Ibu dan Ayah dalam mendidik Anak
  • Mendampingi anak-anak ketika menonton TV ataupun Video di internet
  • Komunikasi yang menyenangkan antara orangtua dan anak
  • Memberikan pemahaman  tentang dampak negatif dari LGBT

Supaya tidak terjadi penyimpangan fitrah seksualitas ada beberapa pendekatan
  1. Pendekatan Agama
  2. Pendekatan Psikologis
  3. Pendekatan Sosial
Sumber Referensi:
https://ekoharsono.wordpress.com/2017/08/07/mendidik-fitrah-seksualitas/
https://www.youtube.com/watch?v=bdZV3U7BS-I


Review diskusi day #3
Tema: pentingnya menanamkan adab sedari kecil sesuai dengan fitrah gendernya 

Pengenalan batasan aurat, adab berpakaian, dan adab bergaul antar lawan jenis.


Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
ﻟَﻌَﻦَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺒِّﻬِﻴﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺒِّﻬَﺎﺕِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺑِﺎﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki ” (HR. Bukhari no. 5885).

▪Dalam lafazh Musnad Imam Ahmad disebutkan,
ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺒِّﻬِﻴﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ ﺑِﺎﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ، ﻭَﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﺒِّﻬَﺎﺕِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨِّﺴَﺎﺀِ ﺑِﺎﻟﺮِّﺟَﺎﻝِ

“ Allah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, begitu pula wanita yang menyerupai laki-laki ” (HR. Ahmad no. 3151, 5: 243. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari).

▪Begitu pula dalam hadits Abu Hurairah disebutkan,
ﺃَﻥَّ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻟَﻌَﻦَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞَ ﻳَﻠْﺒَﺲُ ﻟُﺒْﺴَﺔَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓَ ﺗَﻠْﺒَﺲُ ﻟُﺒْﺴَﺔَ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞِ

“ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki ” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61.

Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perowinya tsiqoh termasuk perowi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Sholih yang termasuk perowi Muslim saja).

Dalam hadits terakhir ini yang dilaknat adalah gaya pakaiannya.

lalu bagaimana batasan aurat antara laki-laki dan perempuan dalam berpakaian?

http://4.bp.blogspot.com/-P8NLWkdFIPk/UuUUApiKmhI/AAAAAAAAAG8/Dd6jTB5ruQo/s1600/aurat+laki-laki.jpg

https://image.slidesharecdn.com/adabberpakaian-140414092622-phpapp01/95/adab-berpakaian-6-638.jpg?cb=1397467627



Semua anggota tubuh perempuan adalah aurat kecuali muka dan telapak tangan.

Sesungguhnya wanita jika sudah baligh maka tidak boleh nampak dari anggota badannya kecuali ini dan ini (beliau mengisyaratkan ke muka dan telapak tangan).[HR. Abu Dâwud, no. 4104 dan al-Baihaqi, no. 3218. Hadist ini di shahihkan oleh syaikh al-Albâni rahimahullah]

Adab berpakaian
1 pakaian menutup aurat
2 mendahulukan anggota tubuh bagian kanan
3 tidak mengenakan pakaian dengan maksud menyombongkan diri atau riya
4 tidak meniru pakaian lawan jenis
5 membaca doa saat hendak berpakaian


Adab Bergaul :
http://lsmi.al-istiqomah.org/wp-content/uploads/2015/11/adab-bergaul.jpg

Mencegah Ikhtilat:
https://pbs.twimg.com/media/Betx2X1CAAA69in.jpg:large

Sumber Referensi:
https://almanhaj.or.id/4114-kewajiban-menutup-aurat-dan-batasannya.html
https://youtu.be/2ftI_EvxWmM


Review diskusi day #4
Tema: pendidikan seksualitas pada anak, juga pada anak berkebutuhan khusus

Menarik sekali tema kali ini, karena terkadang kita melewatkan hal-hal yang sebenarnya tidak kalah pentingnya bahwa anak berkebutuhan khusus juga memerlukan pendidikan seksualitas. Miris sekali saat ini para penyandang disabilitas banyak yang menjadi korban pelecehan seksual. 

Sedih mendengarnya, hati serasa diiris sembilu. Bejat sekali perbuatan mereka yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas. 

# Fitrah seksualitas anak berkebutuhan khusus #
Gangguan perkembangan, terutama dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, dan perilaku yang dialami oleh anak-anak berkebutuhan khusus membuat kebanyakan orang tua lebih fokus untuk meningkatkan kemampuan anak dalam berkomunikasi dan bidang akademik lainnya. 
Tidak mudah mengajarkan seksualitas kepada anak berkebutuhan khusus. Namun bila diajarkan sesuai dengan tingkat pemahaman anak dan dilakukan dengan berulang-ulang maka anak akan mengerti. Disinilah diperlukan peranan orang tua sebagai seorang terapis karena orang tuanyalah yang paling dominan hidup berdampingan dengan anak. 
Secara bertahap ajari anak untuk :
1. Mengenali anggota tubuh beserta fungsinya
Pengajaran tentang mengenali anggota tubuh pada anak berkebutuhan khusus sama halnya dengan pengajaran yang diberikan kepada anak-anak normal. 
2. Mempunyai rasa malu
Tingkat kematangan anak berkebutuhan khusus biasanya terbelakang. Mungkin secara kronologi mereka berumur 7 tahun, namun perilaku serta sikapnya masih seperti anak umur 3 tahun. Hal inilah yang menyebabkan mereka terkadang tidak malu telanjang di hadapan orang lain atau memegang daerah pribadi di depan orang lain. 
3. Mengajarkan toilet trainning
Sulitnya melatik ABK menggunakan toilet diantaranya karena beberapa anak mungkin mempunyai masalah pada motoriknya, yakni anak sulit untuk duduk atau jongkok di toilet karena adanya kelemahan atau kekakuan di salah satu otot tubuhnya atau di seluruh otot tubuhnya. 
Memulai toilet trainning pada ABK harus melihat kesiapan fisik, mental dan emosinya. Pada anak normal biasanya dimulai dari usia 18-30 bulan sedangkan pada ABK secara knologis baru bisa di mulai pada usia 4 atau 5 tahun. 
4. Menjaga kebersihan tubuh 
5. Mengajarkan kesopanan serta social circle
Social circle adalah siapa saja yang boleh menerima pelukan. 
Daya pikir anak berkebutuhan khusu terbatas. Terkadang mereka tanpa malu-malu mengekspresikan hasratnya kepada orang lain tanpa mempertimbangkan faktor kesopanan. Oleh karena itu, orang tua sejak dini harus mengajarkan sikap dasar berinteraksi melalui pembiasaan misalnya tidak diperbolehkan memegang orang lain, memandang dan memegang bagian tubuh orang lain. 
6. Mengajarkan anak untuk mengenali sentuhan oke dan tidak oke
Ini merupakan  modal anak dari sasaran tindak pelecehan seksual. Sangat banyak anak berkebutuhan khusus mengalami pelecehan seksual karena mereka tidak tahu perlakuan yang pantas diberikan pihak lain terhadapnya. Mereka tidak mampu mengembangkan sikap wapada kepada orang yang berniat jahat kepadanya. Tahu-tahu anak mengalami depresi karena telah menjadi korban pelecehan. 
7. Menjaga pergaulan antar lawan jenis
Anak berkebutuhan khusus mempunyai hasrat seksual yang sama dengan anak normal. Malah biasanya perkembangan seksualnya lebih cepat dibanding anak normal. Hal inilah yang menjadikan masalah tersendiri bagi orang tua yang mempunyai anak ABK. 
alah satu upaya mendidik anak sesuai fitrah seksualitas adalah:
1. Memberikan nama anak sesuai dengan jenis kelaminnya 
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah ada hubungan yang erat antara nama dan yang dinamai. Pemberian nama yang baik akan mendorong si pemilik nama untuk berbuat baik sesuai dengan makna yang terdapat pada namanya.
2. Memberikan perlakuan sesuai dengan jenis kelamin anak 
       Ibnu Abbas menuturkan, bahwasanya Rasullulah melaknat laki-laki yang berlagak seperti wanita, dan wanita yang meniru laki-laki (HR> Bukhari). Orang tua yang salam dalam penanaman jiwa maskulinitas dan feminitas pada anak-anaknya, menyebabkan sang anak mengalami kebingungan peran. Badannya laki-laki, namu jiwanya perempuan begitu juga sebaliknya. 

3. Mengenalkan bagian tubuh dan fungsinya 
Bagian tubuh perempuan dan laki-laki tidaklah sama. Kita sebagai orang tua, jangan malu menyebutkan vagina atau penis di hadapan anak. Bukankah itu merupakan bagian dari tubuh kita, seperti halnya tangan dan kaki. 
4. Mengajari cara membersihkan alat kelamin
Begitu pentingnya menjaga diri dari najis, maka orang tua tua diharapka mengajarkan cara yang benar bagaimana membersihkan alat kelamin anak setalah membuang hajatnya. Sehingga mereka terbiasa melindungi auratnya dari pandangan orang lain sedini mungkin. 
5. Khitan bagi anak laki-laki
6. Pahamkan tentang menstruasi atau mimpi basah
7. Tanamkan rasa malu sedini mungkin
8. Memberitahu anak bagian tubuh yang boleh atau tidak boleh disentuh orang lain
9. Memberitahu anak jenis sentuhan yang pantas dan tidak pantas
10. Jangan biasakan anak di sentuh lain jenis
11. Membiasakan menutup aurat
12. Memisahkan tempat tidur anak


Sumber Referensi:
Harry santosa, Fitrah Based Education.
Pendidikan seks untuk anak, Chomaria Nurul, S.Psi, Aqwam, 2012.


Review diskusi day #5
Tema: cara bicara, menjelaskan atau menjawab pertanyaan seputar seksualitas

Karena pemaparan materi ini menurut saya sangat penting, jadi saya copas semua materi nya disini ya, barangkali ada yang membutuhkan. 


Bagaimana bicara seksualitas ke anak

  • Seiring perkembangan informasi dan komunikasi yang pesat dan cepat, dan munculnya kesadaran akan pengasuhan yang bijak pada orangtua, permasalahan seksualitas mulai dilihat sebagai sebuah proses pembelajaran bagi anak yang harus dijelaskan secara benar.
  • Pendidikan yang kita berikan kepada anak bukanlah pendidikan seks, namun pendidikan seksualitas. Seksualitas merupakan totalitas suatu pribadi, bagaimana individu itu berbicara, berpakaian, berbudaya, bersosislisasi, dsb. Jadi jelas lah bahwa yang kita ajarkan ke anak adalah seksualitas yang mencakup masalah seks dan pendidikkan moral serta kepatutan sehingga anak memiliki seksualitas yang benar, sehat dan lurus.


Mengapa perlu belajar ? jika kita panik dan tak tahu ilmu bicara :

  • Anak bingung
  • Anak mencari ke sumber lain yang belum tentu benar
  • Anak tumbuh dengan pemahaman yang salah
  • Fitrah seksualitas anak rentan menyimpang


Prinsip Bicara seksualitas

  • Berjenjang sesuai usia anak
  • Dilandasi aturan agama-cara agama
  • Sesuai anjuran medis/ kesehatan
  • Tanamkan value, baru penjelasan
  • Didampingi penuh oleh orangtua
  • Berani untuk “tidak sempurna”
  • Tidak tabu, karena ini menopang fitrah personal


Saat menjawab pertanyaan anak :

  • tenang dan kontrol diri. Tarik napas panjang, rileks. Take it easy.  (jangan terlihat ortu shock waktu ditanya anak).
  • cek pemahaman anak, bagaimana caranya? Tanyakan pada anak : “Yang kamu tau apa, Nak?”
  • katakan apa yang anda rasakan. Misal, “Mama kaget kamu tanya itu.”
  • beri jawaban Pendek&Singkat (PS). Keep it short-simple (KISS).
  • Kunci dengan agama. Jagan beri jawaban gantung. Jawab atau tidak, jika belum siap menjawab katakan dan jadwalkan kapan menjawab “Nak, mama blm bisa jawab sekarang, tapi mama janji BESOK mama akan jawab” (tepati janjinya! Kalau tidak anak mencari jawaban di tempat lain).
  • Gunakan kesempatan emas. Misalnya, ketika melihat cicak atau kucing berhubungan, maka kita katakan “Kucing itu sedang kawin, nak, supaya punya anak. Nah manusia juga boleh punya anak tapi harus menikah dulu secara sah menurut ketentuan agama. Kalau tidak menikah sama saperti halnya kucing itu”. Jadi kesempatan emas sperti inilah saat yang tepat untuk kita manfaatkan bagi pengalaman belajar anak-anak kita tentang seksualitas.


Prinsip agama yang dikaitkan ketika bicara seksualitas :

  • Fitrah gender
  • Adab
  • Fiqh thaharah
  • Fiqh ibadah
  • Rasa malu dan ihsan


Tahapan fitrah seksualitas dan usianya :

# 0-5 tahun (pra latih) #
1. Masa membangun kedekatan dan kelekatan.
2. Kenalkan nama anggota badan dengan benar dan aturan aurat (ketika memandikan).
3. Ajarkan tubuhnya berharga - minta izin. Bunda : “Bunda mau ganti popokmu, Nak. Bunda izin mengelap pantatnya ya”
4. Ajarkan tubuhnya berharga dan kenalkan batasan.
5. Hubungkan dengan Allah SWT. Ayah : “Allah SWT menciptakan tubuhmu sempurna sebagai laki-laki. Apa kata Allah, kita ikuti ya”
6. Ajarkan Mengenal Sentuhan :
Sentuhan boleh(kepala,tangan,kaki)
Sentuhan tidak boleh(yang tertutup baju dalam)
7. Hubungkan aurat dengan thaharah. Tuntas Toilet Training di usia 3 tahun
Bunda : “Nanti Adi pipis dan pup di kamar mandi. Supaya mudah dibersihkan dari najis, dan tidak malu karena tidak kelihatan.”
8. Tanamkan rasa malu dengan aturan aurat.
9. Menanamkan jiwa maskulinitas/feminitas. Ayah : “Adi itu laki-laki, ganteng dan soleh. Tika itu perempuan, cantik dan solehah”

10. Mulai 3 tahun : Kedekatan paralel (ayah-ibu), sehingga anak seimbang emosional - rasional.

# 5 – 7 tahun (Pra Latih II) #
1. Latih menahan pandangan & menjaga kemaluan. Bunda : “Adi, malu, ga usah lihat iklan sabun itu, itu bahu orangnya kelihatan”
2. Jelaskan : keluarga, muhrim, orang asing.
3. Biasakan tertib tidur, pisah selimut/kamar.
4. Biasakan tertib mandi jaga aurat.
5. Ajarkan percaya perasaannya sendiri. Bunda : “Kalau Adi merasa tidak nyaman dengan cara bapak itu memegang bahu Adi, Adi boleh menghindar. Percaya sama perasaan Adi sendiri ya.”
6. Latih berani berkata “Tidak !”
7. Yakinkan anak berbagi rahasia dengan kita.
8. Kedekatan paralel : mempertegas pembeda identitas sebagai laki-laki/ perempuan
Ayah : “Yang pakai make up itu perempuan, karena itu bagian dari merasa cantik. Kalau laki-laki tidak perlu menjadi cantik, jadi laki-laki tidak perlu make up.”
9. Ego sentris / individualitas anak bertemu dengan fitrah seksualitasnya
“saya perempuan” atau “saya laki-laki”

# 7-10 tahun (Pre Aqil Baligh 1) #
1. Ego sentris ke sosio sentris (tanggungjawab moral & syariah).
Ayah : “Adi, ikut ayah ke masjid yuk. Laki-laki sholeh rajin shalat di masjid. Nanti, kalau sudah besar, Adi juga pasti jago shalat di masjid”
2. Pisah tempat tidur/beri sekat.
3. Sesama perempuan / sesama laki-laki tidak satu selimut.
4. Minta izin di 3 waktu (sebelum Subuh, tengah hari, setelah Isya).
5. Mendidik menjauhi Ikhtilat dan Khalwat.
Bunda : “Tika, nanti ketika kemping sama teman-teman, Tika harus selalu bareng dengan teman-teman perempuan ya. Begitu pun ketika berkumpul dengan teman laki-laki, harus ada teman perempuan yang menemani ya.”

# 10 – 14 tahun (pre Aqil Baligh II) #
1. Kesempatan Emas (Golden Opportunity)
Jelaskan Organ Reproduksi dan Simulasikan Tanda Baligh.
Gunakan buah pisang dan 2 tomat untuk menjelaskan penis dan 2 testis. Gunakan larutan tepung kental untuk menjelaskan ciri ciri mani.
2. Gunakan buah pear dan dua anggur untuk menjelaskan vagina dan 2 ovarium.
Gunakan cairan warna merah untuk menjelaskan darah menstruasi
Tunjukkan cara membersihkan pembalut.
3. Anak laki-laki lebih didekatkan ke ibu. Anak perempuan lebih didekatkan ke ayah. Rujukan pengalaman interaksi sehat yang pertama dengan lawan jenis
4. Pisah kamar tidur
5. Puncak perubahan hormonal
Tika : “Bunda, menurut aku artis itu ganteng ya. Aku suka wajahnya yang bersih.”
Bunda : “Oh menurut Tika dia ganteng ya” (mengamati ekspresi Tika)
6. Latih kepekaan selektif dalam bergaul
Bunda : “Adi, terus terang, Bunda kurang suka mendengar temanmu yang dari sekolah lain itu kalau sedang bicara. Dia bicaranya kasar. Bunda ga nyaman dengarnya.”
Adi : “Iya Bunda, aku juga ga nyaman dengarnya. Dia jarang bicara dengan bahasa yang hormat”
7. Jelaskan kelainan dan penyakit seksual
8. Bahas seputar perkawinan
9. Ajari adab menahan diri
Ayah : “Adi, karena sudah baligh, Adi perlu melatih menahan pandangan. Itu cara Allah menjaga setiap laki-laki muslim dan setiap wanita.”
10. Diskusikan tentang bahaya pacaran
11. Ajari bijak memakai social media dan gadget
Bunda : “Tika, tidak perlu posting foto selfie di instagrammu ya. Itu kan dilihat oleh semua orang. Coba kalau setiap orang yang lewat di jalan memperhatikan wajahmu lekat lekat, pasti Tika risih kan ya ? Ya seperti itu juga kalau kita selfie dan foto kita tersebar di internet.”
12. Asah bakat menuju produktivitas

Sumber :
1. Catatan materi seminar bu elly risman,Psi
2. Buku FBE-harry santosa
3. Materi webinar ibu septi peni wulandani
4. Yayasan kita dan buah hati
5. SEMAI 2045
6. Pengalaman pribadi


Review diskusi day #6
Tema: Kekerasan Seksual Pada Anak














Ciri-ciri predator seksual:

https://mawartriani.wordpress.com/2013/04/10/kenali-ciri-ciri-predator-seksual/amp/
http://health.kompas.com/read/2017/03/17/202655023/lakukan.ini.untuk.melindungi.anak.dari.predator.seksual


Sumber Referensi: 
http://midwifemoslem.blogspot.co.id/2015/11/kekerasan-seksual-pada-anak.html?m=1



Review diskusi day #7
Tema: Peran Orangtua dalam Perkembangan Fitrah Seksualitas Anak di Era Digital

Sekilas Fitrah Peran Ayah
🌵Penanggung jawab pendidikan
🌵Man of vission and mission
🌵Sang ego dan individualitas
🌵Pembangun sistem berpikir
🌵Supplier maskulinitas
🌵Penegak profesionalisme
🌵Konsultan pendidikan
🌵The person of "tega"

Fitrah Peran Ibu
🌻Pelaksana harian pendidikan
🌻Person of love and sincerity
🌻Sang harmoni dan sinergi
🌻Pemilik moralitas dan nurani
🌻Supplier feminitas
🌻Pembangun hati dan rasa
🌻Berbasis pengorbanan

🌻Sang "pembasuh luka"

Ciri-ciri anak era digital:
🌴Anak-anak berlomba dalam membuat akun jejaring sosial seperti : path,instagram,facebook,twitter,youtube dan lain sebagainya , hal ini di lakukan sebagai bentuk perwujudan untuk dunia bahwa mereka ada
🌴Di era digital dalam hal privasi anak-anak lebih terbuka blak-blakan dan cenderung agresif
🌴Kebebasan bersekpresi , pada era digital ini anak-anak lebih cenderung ingin memperoleh kebebasan. Mereka tidak suka diatur dan dikekang. Mereka ingin memegang control dan internet menawarkan kebebasan berekspresi
🌴Dalam proses belajar mereka lebih gampang karena mereka dengan mudah dapat mengakses google,atau yahoo untuk mencari bahan pelajaran.

Bahaya Pornografi :

  • Pornografi bisa menyebabkan kecanduan, dan apabila sudah kecanduan hal ini bisa mengakibatkan rusaknya otak di bagian Pre Frontal Cortex ( letaknya diatas alis kanan )
  • Pecandu pornografi tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat sesuai logika, aturan dan norma, dan ia berpotensi kehilangan kontrol diri untuk melakukan adegan porno yang pernah dilihatnya
  • Sulit berkonsentrasi.
  • Kecenderungan melakukan pelecehan seksual atau penyimpangan seksual.
  • Meningkatnya jumlah kehamilan usia dini.
7 Cara Mengasuh Anak di Era Digital:
🌸Tanggung Jawab Penuh
Ketika bicara mengenai pola asuh anak, peran seorang ibu seringkali dianggap hal paling utama. Padahal sosok ayah dalam mendidik anak tak kalah penting. Di era digital seperti sekarang ini, ayah dan ibu harus memiliki pandangan yang sama, yaitu sama-sama bertanggungjawab atas jiwa, tubuh, pikiran, keimanan, kesejahteraan anak secara utuh. Masih banyak orangtua muda masa kini yang melepaskan anak-anaknya secara total.

Perlu adanya kekompakan antara ayah dan bunda atau orang terdekat anak dalam mendidik anak dan pengasuhan, tidak bisa masing-masing sehingga dibutuhkan kekompakan dalam menyamakan pola asuh terhadap anak.

🌸Kedekatan
Perlu adanya kedekatan antara ayah dan anak, juga ibu ke anak. Kedekatan ini bukan hanya berarti melekat dari kulit ke kulit, melainkan jiwa ke jiwa. Artinya, Anda dan pasangan tak bisa hanya sering memeluk sang anak namun juga harus dekat secara emosional.

🌸Harus Jelas Tujuan Pengasuhan
orangtua mulai merumuskan tujuan pengasuhan sejak anak dilahirkan. Perlu membuat kesepakatan bersama suami, prioritas apa saja yang diberikan kepada anak dan bagaimana cara pendekatannya.

🌸Berbicara Baik-baik
Orangtua harus belajar berbicara baik-baik dengan anak. Tidak boleh membohongi, lupa membahas keunikan anak, dan juga perlu membaca bahasa tubuh, serta mau mendengar perasaan anak.

"Menyalahkan, memerintah, mencap, membandingkan, komunikasi seperti ini akan membuat anak merasa tak berharga, tak terbiasa memilih dan tak bisa mengambil keputusan." 

🌸Mengajarkan Agama
Menjadi kewajiban orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya tentang agama. Pendidikan tentang agama perlu ditanam sejak sedini mungkin. Dalam hal ini, mengajarkan agama tak hanya terbatas ia bisa membaca Al-Qur'an misalnya, bisa berpuasa atau pergi ke gereja. Orangtua perlu menanamkan secara emosional agar anak menyukai aktivitas itu. 

🌸Persiapkan Anak Masuk Pubertas
Kebanyakan orangtua malu membicarakan masalah seks dengan anak dan cenderung menghindarinya. Pembicaraan justru perlu dimulai sejak dini dengan bahasa yang mengikuti usianya. 

🌸Persiapkan Anak Masuk Era Digital
Bukan berarti Anda harus memberikannya gadget sejak bayi. Namun mengajarkan anak jika penggunaan gadget ada waktunya dan memiliki batasan untuk itu. Akses internet pun perlu dibatasi untuk mencegah anak melihat situs yang tidak diinginkan. 

Kedepankan komunikasi sebagai pengganti gadget. Sebagai contoh, ajak anak bicara tiap kali pulang sekolah. Hal-hal di sekolah seperti tugas menumpuk, teman jahil atau guru menyebalkan sudah menjadi hal berat untuknya, berkomunikasi tentang perasaannya. Misalnya tanya perasaannya di hari itu, apa yang membuatnya bahagia dan apa yang membuatnya sedih. Dengan begitu, secara otomatis anak akan dengan mudah bercerita pada Anda tiap kali ia merasakan sesuatu. 

"Ketika anak dibatasi dia pegang gadget, orangtua perlu beri alternatif lain. Tidak bisa kalau ibu atau ayahnya tidak di rumah. Contohnya ikuti les berenang, main basket, futsal, gitar atau apa yang disukai anak.

Kesimpulan:
Membesarkan anak di zaman millenial butuh usaha ekstra dibanding puluhan tahun yang lalu. Perkembangan dunia digital tak hanya memberi kemudahan, malah kadang membuat gap antara orangtua dan anak. Perkembangan ini bak pisau bermata dua . Apabila salah digunakan bisa mencelakai penggunanya semakin canggih perangkat dan media digital yang digunakan semakin "tajam pisau-nya" ini membutuhkan ekstra tanggung jawab dari penggunanya, ataupun orang tua. Terutama didalam hal pendidikan seksualitas anak. Karena semakin maraknya konten-konten yang tidak layak untuk dilihat anak.

Upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah : 
1. Dengan menanamkan pemahaman mengenai seksualitas sejak dini.
2. Mengenalkan adab dan batasan-batasan antara laku-laku dan perempuan.
3. Berani mengenalkan kepada anak mengenai nama dan fungsi organ vitalnya.
4. Menanamkan pemahaman tentang agama.
5. Membatasi penggunaan gadget sesuai usia.
6. Memfilter penggunaan internet dari situs-situs dan aplikasi yang mengandung pornografi ( Internet positif )

Setelah kita tahu tantangan apa saja yang akan kita hadapi dalam pengasuhan anak di era digital ini menyadarkan kita betapa pentingnya pendidikan dan pengasuhan anak itu dimulai dari dalam rumah, sebagai pondasi pada anak dan sebagai salah satu cara kita dalam memberikan pertahanan yang kuat untuk anak-anak adalah berasal dari rumah, mari sama-sama kita belajar.

Sumber Referensi:

Tim Penulis, 2013. Bunda Sayang: 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. Jakarta: Gazza Media.
Santosa, Harry. 2017. Fitrah Based Education. Bekasi: Yayasan Cahaya Mutiara Timur
'Ulwan, Abdullah nashih. 2015. Pendidikan Anak Dalam Islam. Jawa Tengah: Al Andalus

Internet:
http://kitadanbuahhati.co/artikel/

http://internetsehat.id/literasi/

https://wolipop.detik.com/read/2016/05/27/183233/3219694/857/7-tips-pengasuhan-anak-di-era-digital-dari-psikolog-elly-risman

https://www.kompasiana.com/wiwikfarwati/5a030d5fa4b068400b55e5f2/pendidikan-untuk-anak-di-era-digital


Review diskusi day #8
Tema: Fitrah Seksualitas terkait Peran Gender



Jadi pada laki-laki : peran sebagai Qowwam (pemimpin) dengan diberikan kelebihan dan memberi nafkah dan pada wanita : peran sebagai wanita sholihah yang taat pada Allah, serta memelihara dirinya. Kedua peran ini kalau dijabarkan, sangat luas. Seperti apa qowwamah dan sholihah yang dimaksud

Perbedaan cara kerja otak laki-laki dan perempuan menurut penelitian:




Disamping perbedaan itu, terdapat pula persamaan laki-laki dan wanita. Dari segi apa?



Masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri


Sumber Referensi:
Berbagi Antara Kau dan Aku, Modul Akademi Keluarga, Parenting Nabawiyah
Perbedaan Mendidik Anak Laki-laki dan Perempuan, Modul Akademi Keluarga, Parenting Nabawiyah
Mendidik Anak Laki-laki, Dr. Khalid Asy Syantut
Berkah Anak Perempuan, Dr. Khalid Asy Syantut dan M. Ali Arfaj


Review diskusi day #9
Tema: Tarbiyatul jinsiyah pada bayi dan balita


Tarbiyatul Jinsiyah menurut konsep Islam adalah upaya mendidik nafsu syahwat agar sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga menjadi nafsu yang dirahmati Allah. Yang merupakan bagian dari membangun masyarakat yang beradab.

Tarbiyatul Jinsiyah mengandung makna yang lebih luas. Bahwa pendidikan seksualitas menyangkut masalah keyakinan, keimanan, ibadah dan akhlak.
✳ Kita meyakini hanya ada dua gender yang diciptakan Allah, yaitu laki-laki dan perempuan.
✳ Keimanan seseorang akan menyetir perilakunya, mengekang nafsu dan menjaga kehormatan diri.
✳ Manusia diciptakan untuk menghamba pada Sang Khalik. Menjadi wakil Sang Pencipta di muka bumi. Setiap perbuatannya adalah bagian dari ibadahnya, termasuk cara berpakaian, bergaul, berumah tangga dan memiliki anak-anak.
✳ Ketinggian akhlak akan berpengaruh pada ketinggian peradaban. Generasi yang berkualitas tergantung dari moral dan pendidikan mereka.

Dasar Tarbiyatul Jinsiyah
🔅Q.S AlHujurat :13 
▶ Penciptaan laki-laki dan perempuan berbagai bangsa dan suku. Yang paling mulia bukan jenis kelamin atau kesukuannya melainkan ketakwaan kepada Allah.

🔅 Q.S Ali Imran : 36 
▶ Anak laki-laki tidak sama dengan anak perempuan.

🔅 HR. Bukhari 
▶ Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan begitu pula sebaliknya.


Tujuan Pendidikan Seksualitas
➡ Menangkal efek buruk media dan lingkungan
➡ Membangun kepercayaan antara orang tua dan anak
➡ Mendukung perkembangan dan pemahaman anak
➡Menjadi manusia seutuhnya sesuai kodrat gendernya


Pada usia balita, anak mulai mempelajari nama-nama organ tubuhnya. Hindari mengganti nama organ intim tubuhnya dengan nama-nama selain penis, payudara, dan vagina. Sebagian bunda lebih suka mengenalkan pendidikan seksual ini dari sudut pandang sains dan anatomi. Kali ini kita akan lengkapi dengan melihatnya dari sudut pandang agama.


Tahapan Pendidikan Seksual
▶ Usia 0-2 adalah usia bayi pada masa menyusui.
Sekalipun bayi seolah belum mengerti apa-apa, sesungguhnya mereka selalu belajar melalui indera dan rasa. Maka selayaknya orangtua mulai menanamkan rasa malu dengan cara tidak mengumbar aurat bayi disembarang tempat. Saat memandikan, mengganti baju, mengganti popok, mencebok bayi usahakan dalam ruang tertutup. Jika di tempat terbuka, tutuplah auratnya dari pandangan orang lain menggunakan selembar kain. Saat berjemur pun bayi dalam keadaan berpakaian. Ketika ibu menyusui bayi, maka hanya bayinya yang berhak untuk berinteraksi dan melihat aurat bagian atas ibunya. Saat orangtua melakukan proses hubungan suami istri, tidak boleh disaksikan oleh anaknya, sekalipun masih bayi. Bahkan suaranya pun tidak boleh terdengar oleh bayinya.

Prinsip pada masa ini : berusaha menutup aurat anak dan aurat diri.

▶ Usia 2-4 tahun memasuki masa penyapihan. Anak sudah tidak boleh melihat payudara. Pada usia ini anak mulai diberikan pemahaman tentang menutup aurat mugholadzoh (aurat berat) yakni qubul dan dubul.

Sudut pandang psikologi menyebut usia 1,5 - 3 tahun adalah fase anal dan dilanjut dengant fase urethral. Ditandai dengan matangnya syaraf otot sfingter anus, sehingga anak mulai belajar mengatur BAB dan BAK. Terkadang anak memegang-megang alat kelaminnya. Orangtua dapat mengalihkan tangan anak untuk melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat, seperti melipat kertas, memainkan tali dan mainan lain yang akan menyibukkan dan melatih tangannya. Pada saat yang tepat, beri pengertian untuk tidak banyak menyentuh alat kelaminnya, kecuali ada keperluan seperti hendak pipis atau ada keluhan sakit.

Toilet training memasuki saat yang penting untuk tuntas pada masa ini. Sehingga anak belajar mengontrol kapan ia harus BAB dan BAK. Anak diajari untuk tahu di mana dan dengan siapa ia harus meminta tolong melakukan aktivitas tersebut, beritahukan pada anak, siapa saja orang yang boleh menolongnya. Semua larangan yang berlaku pada masa bayi, terus berlaku pada masa ini.

Jika orangtua dan anak mandi bersama, usahakan lakukan dengan anak yang berjenis kelamin sama, dan orangtua tetap memakai baju basahan / baju renang. Tidak boleh membuka aurat didepan anak. Jangan memandikan beberapa anak secara bersama-sama dalam keadaan mereka telanjang bulat. Minimal pakailah celana dalam jika terpaksa anak mandi bersama. Hal ini menghindarkan mereka saling melihat aurat. 

▶ Usia > 4 tahun anak sudah sampai pada pemahaman bahwa dia hanya boleh dicebok dan dilihat auratnya oleh mahram atau pengasuh yang dipercaya atau ibu guru di sekolah. Seiring proses, anak dilatih untuk melakukan proses istinja sendiri secara benar. Inilah saat anak mengenal secara istilah dan praktik bahwa prosesi cebok adalah bagian dari ibadah, yakni bersuci.

Proses identifikasi gender biasanya mulai usia ini. Ia bertanya dan mulai mengerti perbedaan laki-laki dan perempuan. Bagian dari pendidikan seksual adalah orangtua mengawal masa pembentukan identitas ini agar tidak terjadi penyimpangan.

Saat anak melihat tontonan yang merancukan pemahaman gender, lelaki berpakaian dan bertingkah seperti perempuan ataupun sebaliknya, berikan penjelasan bahwa Allah hanya menciptakan laki-laki dan perempuan. Maka masing-masing harus menjalankan perannya dan tidak boleh bertukar karakter dan jenis kelamin. Ajarkan dan contohkan sikap dan pakaian yang sesuai.

Jika anda enggan mendiskusikannya, anak akan mencari tahu tentang pendidikan seksual dari sumber lain yang belum tentu tepat. Dengan memberikan edukasi seksual yang benar, Anda bisa membantu pemahaman anak serta mencegah pengaruh negatif dari lingkungan dan media infomasi

Sumber Referensi:
  • Tahapan  Mendidik Anak, Jamaal 'Abdur Rahman
  • Prophetic Parenting, DR Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid
  • http://bit.ly/2Ez8dnz
  • http://bit.ly/2mu33T6
  • http://bit.ly/2CV9bda

Review diskusi day #10
Tema: Peran Pengasuhan Orang tua terhadap fitrah Seksualitas


Sosok Ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak-anak sejak lahir sampai aqil baligh , tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna. Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pindidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Riset banyak membuktikan bahwa anak-anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian banding school dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing, perasaan kehilangan attachment, depresi, dan kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan dan sebagainya.

Resolusi-resolusi peran ayah dan ibu. 
  • Perkuat ketahanan Ayah-Ibu
  • Menyicil “hutang jiwa” dan merumuskan ulang Tujuan Pengasuhan
  • Komunikasi yang benar, baik dan menyenangkan.
  • Mengajarkan agama sendiri. 
  • Persiapkan anak Baligh
  • Bijaklah berteknologi

Sumber: Parenting Ibu 
Elly Risman Resolusi Pengasuhan, Harry Santosa pada buku Fitrah Based Education

Tantangan Level 10

December 16, 2017



Membangun Karakter Anak Melalui Dongeng


Day #1

Yang pertama kali terbayang oleh saya ketika menyimak materi ini adalah, dongeng erat kaitannya dengan imajinasi. Sepertinya anak-anak jauh lebih imajinatif dari pada kita orangtua hahahha..

Tantangan Level 9

November 18, 2017


Banyak sekali permasalahan sehari-hari yang sebenarnya solusi nya simple tapi terkadang kita saya yang terlalu rumit mencari penyelesaian nya karena terpatok oleh pola pikir baku mengambil dari penyelesaian yang sudah-sudah yang belum tentu efektif.

Saatnya mencari solusi yang kreatif untuk setiap permasalahan atau pun membuat sesuatu yang tidak biasa dari sebelumnya..

here we go...


Hari ke #1

Berawal dari masuknya musim penghujan, bocah jadi susah mandi pagi. Ini masalah receh banget ya hihihi.. tapi lama-lama jadi keterusan mandi sore pun susah. Biasanya cukup dengan dibilangin, "Aro bau asem" lalu dia akan minta saya untuk menciumnya.

"Tuh kan bau asem" kata saya sambil mencium pipinya.

Baru dia mau mandi kalau saya udah bilang badan nya bau asem. Tapi kali ini cara itu tidak berhasil.

Hmm.. gimana yaa.. bocah malah jadi tantrum kalau saya paksa. Akhirnya saya pancing dia dengan mengajaknya bermain lebih dulu. Saya buatkan dia perahu-perahu kertas kecil untuk dia mainkan di air. Yeayy.. akhirnya dia mau mandi hahaha..


Hari ke #2

Permasalahan klasik sebenarnya ketika anak GTM, mamak mati gaya bocah ogah mangap juga. putar otak bikin apa yaa yang minimal Aro mau makan. Dia seperti saya yang seringkali moody untuk makan.
Karena kali ini dia engga mau makan nasi sama sekali jadi saya gantikan karbo nya dengan kentang.


Hari ke #3

Di materi sebelumnya, saya memperhatikan gaya belajar Aro lebih dominan apa, tapi saya masih ragu mana yang lebih dominan. Lalu saya perhatikan lagi, saya rasa Aro lebih dominan visual. Saya seringkali mengajarkan dia bernyanyi lagu namun dia terlihat kurang tertarik, lalu saya coba download lagu-lagu anak dari youtube yang ada video animasinya, ternyata Aro suka. Terlihat dari antusiasnya bernyanyi mengikuti lagu yang ada di TV.


Hari ke #4

Karena saya merasa saya telah menemukan cara pendekatan untuk mengajarkan aro melalui media video, saya berencana mengenalkan Aro do'a-do'a melalui video animasi juga.


Hari ke #5

Masih seputar video animasi. Setelah kemarin mencoba mengenalkan Aro doa-doa lewat video animasi. Saya berpikir, apalagi ya yang bisa saya ajarkan kepada Aro. Lalu search lagi video animasi lain saya menemukan video diva the series huruf hijaiyah. Yup, lalu saya download video nya dan saya putarkan untuk Aro di TV tidak dari gadget langsung melalui aplikasi youtube. Karena gadget dan youtube seringkali membuat dia tantrum.


Hari ke #6

Aro sudah mulai suka menulis ( baca: corat-coret) di buku gambar dan buku aktifitas paud yang saya beli waktu itu di gramed. Dan suprisingly, dia menulis huruf hijaiyah dan menunjukan nya pada saya. Bunda ini huruf tsa katanya.. Terharu deh, huhu.. lalu dia menggambar dua huruf lain huruf ba dan ta. Saya kaget karena saya belum mengajarkannya menulis huruf hijaiyah. lalu tiba-tiba dia menulis dan bilang kalau ini huruf tsa dengan titik nya yang bulat besar hahaha..


Hari ke #7

Beberapa waktu lalu saya membelikan Aro mainan puzzle, walaupun niat awalnya buat hadiah temannya. Karena doi melihat dan tertarik jadilah dia yang buka hahaha.. Sebelumnya, begitu mencoba cara mainnya dia menyerah dan bilang tidak bisa. Dan lagi saya dikejutkan ketika dia dengan cepat menyusun semua potongan puzzle. Ah mungkin kebetulan, pikir saya. Lalu saya coba mengacak-acak potongan puzzle nya lagi untuk dia susun. Dan ternyata dia bahkan hafal masing-masing letak potongan puzzle nya.


Hari ke #8

Akhir-akhir ini Aro mulai ketagihan gadget lagi. Tapi untung lah bukan youtube, tapi game *tutupmuka* Dan ternyata dia itu bukan suka main game nya, tapi suka membuat arena game nya yaitu berupa maze untuk mencapai suatu titik. Saya lihat maze yang dia buat ternyata sudah mulai berbentuk daripada yang sebelumnya yang acak-acakan.


Hari ke #9

Masih berhubungan dengan mainan, hari ini Aro bermain mega blocks. Dia itu sepertinya suka sekali mainan yang menyusun atau membuat sesuatu. Dia membuat robot dan pesawat dari mega blocks.


Hari ke #10

Karena mainan diecast Aro sering banget berantakan. Hari ini Aro membuat garasi mainan untuk diecast bersama aa ndo. Tapi sayang cuma bertahan sebentar, karena sore harinya garasi itu pun sudah hancur. Hahaha..







Think Outside The Box Then Let Magic Happens

November 4, 2017


Memulai kembali perkuliahan bunsay dengan semangat dan fasil baru. Yeaayy...

Merasa tertantang dengan kejutan yang diberikan oleh tim fasil "mengikat rasa" yang muncul selama diskusi materi dan belajar "mengikat makna" nya melalui tulisan.

Here we go..

Tantangan 10 Hari Gaya Belajar Anak

April 20, 2017

Bismillahirrahmanirrahim​...
Memasuki materi ke-4 tentang gaya belajar anak. Jujur, untuk saya sendiri masih ragu apa gaya belajar saya. Dulu saya merasa saya adalah tipe visual karena lebih mudah menghapal sesuatu dengan menggunakan gambar atau bagan yang berwarna-warni. Tapi semakin kesini ketika membaca buku, saya lebih suka membaca nya dengan bersuara. Itu berarti saya tipe audio kan? Jadi kemungkinan besar gaya belajar saya adalah audio visual.
Dan di tantangan ke-4 ini saya harus mengamati gaya belajar anak saya. Tebakan saya di awal gaya belajar Aro adalah visual. Bener ngga ya?? Saya akan coba mengamati lebih seksama selama 10 hari kedepan.

Ooutbound Perdana Aro

April 16, 2017


Hari Sabtu kemarin RB playdate IIP Bandung mengadakan acara outbound di edukidzment Bikasoga. Awalnya ragu karena Aro belum pernah  ikut acara outbound sebelumnya, tapi akhirnya ikut juga karena kebetulan weekend ini tidak ada aktifitas lain.

Deg-degan sih, kira-kira Aro berani ngga yaa nyobain semua wahana nya, kira-kira mau ngga yaa dia berbaur sama teman lain yang baru pertama ketemu.

Dan ternyata...
Seperti biasa, ketika berada di suatu lingkungan baru dia hanya akan diam mengamati sekitar. Tipe pemerhati kayanya nih Aro. Mulai agak bete pas diajak ngumpul dengan anak lain. Dia engga mau dengerin kakak fasilitator dan engga mau ngumpul bareng anak lain. Belum mungkin ya.
Tapi Alhamdulillah beberapa lama kemudian akhirnya dia mau mencoba beberapa wahana, walaupun sempet nangis ketika ada anak-anak yang lebih besar menyerobot -_-
Yang saya perhatikan dari Aro adalah dia agak sulit untuk langsung mencoba hal baru. Mungkin ngumpulin dulu keberanian kali ya hihihi..

Aro juga tipe yang pemalu *kayabundanya
Setelah mengikuti acara outbound ini banyak sekali hal positif yang saya dapat diantaranya:
1. Melatih motorik anak
2. Melatih kemandirian anak
3. Meningkatkan rasa percaya diri anak
4. Melatih anak untuk bersosialisasi dengan yang lain
5. Meningkatkan bonding dengan orangtua *jika orang tua ikut
6. Melatih toleransi dengan temannya
Kurang lebih seperti itu.
Yang harus digarisbawahi adalah selalu ingat tiap anak itu unik. Begitupun dengan pola pikir dan cara dia bereaksi terhadap sesuatu atau lingkungan baru. Yang harus kita lakukan adalah mengenalkan berbagai macam aktifitas atau kegiatan untuk anak dan mendampingi nya.
Selamat membersamai anak yaa moms!

Tentang Menerima Kehendak-Nya

Pernah berada di situasi yang dirasa benar-benar diluar jangkauan? Atau ketika sudah berjuang dan berusaha sekuat tenaga namun tak juga teraih tangan?
Apa yang dirasakan? Marah? Kesal? Kecewa? Tidak terima? Atau bahkan semuanya?
Lalu apa yang akan dilakukan? Tetap berusaha atau menyerah?
Sebenarnya yang dibutuhkan adalah dua hal, doa dan ikhtiar. Ya, dua hal itulah yang kita butuhkan ketika hendak meminta sesuatu. Namun, yang seringkali dilupakan adalah ketika dua hal tersebut merasa telah kita penuhi dan yakin bahwa Allah akan mengabulkan apa yang kita inginkan ternyata Allah berkehendak lain.
Apakah bisa ikhlas menerima ketetapan-Nya?
Kecewa?
Saya yakin sekali tiap orang pernah mengalami hal ini. Dan bisa jadi reaksi setiap orang berbeda-beda. Ada yang bisa menerima dengan lapang segala ketetapan-Nya. Ada juga yang keukeuh sumekeuh memperjuangkan yang diinginkan.
Termasuk yang mana?
Tulisan ini hanya sebuah perenungan untuk tiap-tiap ambisi yang ada didalam diri.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu untuk dicari jawabannya, karena sejatinya jawaban tersebut sudah ada didalam diri masing-masing.
"Mengikhlaskan berarti menerima segala ketetapan dengan penuh kesadaran"